INTELEKTUAL cenderung memecahkan masalah dengan pendekatan iptek yang rasional, politikusmemilih ideologi karena ada sistem yang jelas untukmencapai tujuan. Akankah agama ditinggalkan di abadiptek atau justru kembali ke agama, karena iptek cenderung merusak lingkungan dan ideologi gagalmewujudkan kesejahteraan bagi umat manusia.
Ketika ideologi sosialis yang otoriter menjadi totalitas ambruk dan ideologi yang kapitalis liberal gagal mewujudkan kesejahteraan, krisis pun muncul berkepanjangan. Dalam kondisi demikian ada kecenderungan untuk kembali ke agama sebagai pegangan dan pandangan hidup. Masalahnya, dapatkah agama dan iptek berdampingan dengan saling dukungannya dijadikan ideologi sebagai suatu system memecahkan masalah sosial?
Tentunya tidak segampang menerangkan tumbuh suburnya KKN karena ganasnya otoriter menelan demokrasi. Agama memang sulit dijadikan sistem social karena hanya ada pokok-pokok dasar arahan pemikiran yang harus dijabarkan dalam sistem yang lebih rinci, lengkap dan strategis. Kelemahannya, agama cenderung dogmatis, ortodoks dan feodal manakala peradaban masyarakat pendukungnya masih tertinggal. Dalam kondisi demikian, agama tidak jarang dimanipulasi untuk membohongi, membodohi dan menidurkan masyarakatnya yang dijadikan sasaran pemerasan terkemas.
Agama, termasuk berbagai bentuk kepercayaan sebagai sumber yang mengilhami suatu modifikasi ideologi, memang memungkinkan mutlak adanya. Jangankan untuk meragukan, mengembangkan interpretasi persepsinya pun bisa digugat. Memang seharusnya demikian karena agama sesuatu yang langgeng (a-gam) tidak bias dibubarkan. Berbeda dengan ideologi yangmemang seharusnya mampu menyesuaikan bahkan bias bubar jika gagal sebagaimana halnya komunis, sebagai Marxisme yang Leninisme. Ilmu pengetahuan tidak langgeng (seperti agama) dan tidak menyesuaikan (seperti ideologi) namun berubah dalam perkembangannya. Suatu teori akan gugur manakala ada temuan bangun teori baru yang mengunggulinya.
Agamawan Intelektual
Sebagaimana halnya dokter dukun (terkun), dokter yang tentunya rasional manakala merangkap sebagai dukun memerlukan pendekatan agama atau kepercayaan untuk menjawab misteri yang tak terjawab iptek. Semaju apa pun ilmu pengetahuan misteri tetap ada, karenanya agama masih tetap diperlukan untuk menjawab misteri, walau tak terpecahkan namun dapat memberikan kepuasan yang bisa menyembuhkan, memberi kesehatan dan kesejahteraan. Demikian halnya misteri bumi disangga kura-kura raksasa, lalu kura-kura raksasa itu apa yang menyangga jika di bawahnya dan di bawah selanjutnya juga kura-kura. Tentunya menjadi tak terhingga. Ketika fisikawan maestro memecahkannya, bukan lagi sebagai misteri. Juga Ratih (bukan rakyat terlatih) ditelan Kalarahu tidak lagi sebagai misteri ketika astrologi mampu menerangkannya dan astronot pertama Juri Gagarin dan Armstrong mendarat di bulan pada tahun 1963, yang sempat memberikan ceramah ilmiah di gedung bioskop Wisnu Denpasar. Agama dan iptek memang dua kutub berbeda, namun saling mendukung sehingga akan menjadikan dinamika kehidupan yang komprehensif, kreatif inovatif.
Politikus Agamawan
Ideologi pada prinsipnya ada dua, kiri dan kanan atau sosialis dan kapitalis. Pernah juga diistilahkan sosialis kiri sebagai komunis dan sosialis kanan sebagai kapitalis. Tentunya itu kurang tepat karena Marxisme baru akan menjadi komunis manakala diterapkan dengan Leninism yang memang ekstrem adanya. Sejauh Marxis sebagai teori ekonomi peranannya sebagai pranata sosial, tidak jauh berbeda dengan Adam Smith yang membangun teori kapitalis juga dari pendekatan moral.
Dalam kompetisinya berebut massa lewat ideology unggulan di masa lalu, PNI memang sempat mempromosikan ideologinya Marhaenisme adalah Marxisme di Indonesia. Ketika komunis dibubarkan, PNI terpojokkan, Marhaenisme pun ditenggelamkan. Nasakom memang dikhianati komunis yang telah amruk total, namun Nasionalisme dan Spiritualisme tidak harus diharamkan sehingga negara bangsa kehilangan arah ketika gelombang reformasi menghantam.
Titanic telah tenggelam tak terselamatkan, akankah ideologi Marhaenisme direhabilitasi, tergantung keberanian, kemauan dan kemampuan politikus yang berwawasan nasionalisme memberdayakannya kembali. Porsi posisinya sebagai ideologi berwawasan kebangsaan yang telah lengkap, mantap dan terinci senapas dan sejiwa dengan Pancasila karena penggali dan yang membidani kelahirannya adalah politikus nasionalis yang intelektual agamawan adanya.
Munculnya negara seratus partai tanpa memiliki ideology yang jelas memang memprihatinkan. Rawan kisruh, mudah rusuh dan gampang ditunggangi pihak luar yang mempermainkan nasib bangsa sebagai mainan murahan. Pancasila sebagai dasar Negara memang wajib sebagai pandangan hidup warga negaranya, pedoman politik bagi partai partai dan organisasi sosial kemasyarakatan. Masing-masing dengan ideology alternatifnya. Yang jelas, formal dan proporsional sebagai penjabaran Pancasila tanpa memanipulasi ke arah kepentingan tertentu yang merugikan perjuangan nasional.
Jelas, agama adalah pedoman dasar arahan moral yang menjiwai sikap dan perilaku politik. Ideologi adalah orientasi keyakinan misi, visi dan aksi politik menuju cita-cita perjuangannya. Iptek adalah jawaban atas masalah dan pemecahan problem. Dengan demikian, politikus yang berkepribadian agamawan moralis, berbobot ideologi kongkret dan berkualitas intelektual teknokrat adalah idola pemimpin masa depan. Pilihan dan dukungan massa terhadap suatu partai tentunya didasarkan pada bobot kepartaian dengan ideologinya, kepribadian dan kualitas intelektual kepemimpinannya. Untuk itu, ideologi, agama dan iptek perlu saling dukung demi kekompakan misi, kejelasan visi dan kepastian aksi yang konstruktif inspiratif. Tanpa ideologi dan ketaatasasan yang jelas, kebingungan dan keraguan terhadap dasar dukungan dan alasan pilihan massa kepada suatu partai yang menjamur, hanya seumur jagung akan ikut pemilu.
Politikus Intelektual
Ideologi adalah kekuatan politikus dan iptek adalah napasnya yang dijiwai keagamaan. Betapa mantapnya kualitas unggul politikus agamawan yang juga intelektual. Politikus intelektual yang moralis-ideologis memang manusia langka yang nyaris punah. Dengan tiadanya ideologi dan terjadinya pendangkalan penghayatan agama, kurang tepatnya iptek dengan kondisi yang ada, kualitas politikus, kepemimpinan dan massa pendukungnya, sulit diharapkan mampu mengantarkan menuju kesejahteraan yang dicita-citakan. Politikus memang seharusnya memahami, menghayati dan mampu menerapkan ideologi untuk mengelola, mengarahkan dan mengantarkan masyarakat massa pendukungnya menuju cita-citanya.
Pemimpin yang kepemimpinannya berkualitas dapat diharapkan mampu memajukan peradaban bangsa, meningkatkan kualitas kehidupan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kekuasaan dari hasil penjarahan, atas bantuan kekuatan asing, risikonya akan melahirkan krisis, kisruh dan rusuh. Uniknya kekuatan yang memprogramnya tidak akan segan-segan mengorbankannya jika sudah tidak lagi produktif. Sebagaimana ayam petelor yang pada saatnya jika tidak lagi produktif tidak ada pilihan lain kecuali dikorbankan untuk kelangsungan pengurasan atas lahan yang disandranya. Untuk menghindari nasib bangsa kembali terjajah ratusan tahun, memang seharusnya generasi muda penerus bangsa memperjuangkan kemerdekaan dalam arti sebenarnya. Tiap perubahan memang menimbulkan guncangan, pertahanan dan perlawanan. Tidak pernah ada kekuasaan hasil rampasan diserahkan dengan ikhlas. Kekuasaan dari hasil penjarahan akan beralih lewat kekerasan. Tak terhindarkan menelan korban jiwa harta dan idealisme. Menghindari punahnya bangsa yang pernah jaya, memang seharusnya ada kesadaran regenerasi tanpa harus melibatkan kekuatan luar dalam pendayaan, pendanaan dan pengambilalihannya.
Untuk itu, jelas diperlukan kesiapan untuk berubah, kesediaan untuk diubah dan kemampuan untuk mengubah. Penyiapan politikus intelektual adalah jawaban atas peluang dan tantangan yang tidak harus dilewatkan dengan kecemasan dan penyesalan. Kenyataan telah dialami dengan politikus actor terprogram, negara dijual, bangsa dikorbankan karena diposisikan sebagai lahan ekploitasi dan pemasaran kemanjaan produk impor. Negara ambruk, bangsa tenggelam terhimpit utang yang tak akan terbayar sepanjang generasi di mana aset bangsa telah dirampas tak terkembalikan.
Penyiapan politikus intelektual yang moralis memang mendesak, harus dan tak tertunda karena penundaan akan memperparah kehidupan bangsa. Mengorbankan mahasiswa mahasiswa pahlawan reformasi makin banyak berarti berkurangnya intelektual berwawasan kebangsaan. Masalah baru pun muncul, bagaimana menyiapkan politikus intelektual yang moralis?
Memaknai Agama ke Arah Iptek
Membadutkan nilai-nilai normatif ajaran agama memang harus dicegah, ditangkal dan diambil tindakan hokum terhadap para peleceh dan pelanggarnya. Namun pemaknaan terhadap nilai-nilai normatif ajaran agama memang seharusnya dilakukan agar agama tetap eksis, tidak ditinggalkan karena alasan ortodoks, feudal tertinggal dan serba menghambat. Kondisi demikian akan terjadi jika agama tidak mampu mengakomodasikan tuntutan kejiwaan umatnya dan permasalahannya terselesaikan melalui iptek denagn menemukan kepuasan dalam keseimbangan kehidupannya. Makin majunya iptek memang tidak seharusnya menyebabkan agama makin ditinggalkan. Agama yang mampu memaknai nilai-nilai normative kejiwaan untuk terakomodasi dalam sistem sosial yang sedang berlaku dan tuntutan prediksi masa depan akan menjadi agama unggulan yang tangguh. Bukan saja karena kemampuan kejiwaannya, juga kemampuan kongkret kesejahteraannya, yang bukan tak mungkin bagi agama masa depan yang holistik komprehensif.
Jelasnya, universitas keagamaan adalah tuntutan agama masa depan dalam menjiwai kepemimpinan politikus intelektual moralis yang mampu mengakrabkan kedua kutub sistem sosial yang berlaku. Menghapus otoriter sosialis dan mendemokrasikan kapitalis, dengan meningkatkan kualitas iptek dalam kemantapan intelektual moralis.