Konsep GIS
Posted in Uncategorized on November 18, 2011 by yudipython911ArcGIS 9.4 Kini Menjadi ArcGIS 10
Posted in Uncategorized on Januari 21, 2010 by yudipython911ESRI merilis sebuah podcast tentang perubahan versi ArcGIS 9.4 yang kini menjadi ArcGIS 10. Dalam podcast tersebut, Jack Dangermond menjelaskan perubahan nama tersebut. Perubahan versi ini juga menjelaskan bahwa versi 9.3 dan sebelumnya dan versi 10 nantinya adalah berbeda, terutama dari sisi GUI.
Anda bisa mendengarkan podcast dari Jack Dangermond di http://www.esri.com/news/podcasts/audio/speaker/dangermond_arcgis10.mp3.
Peningkatan pada ArcGIS 10 nantinya, tidak jauh dengan apa yang pernah di posting sebelumnya tentang sembilan inovasi di ArcGIS 9.4. Diantaranya ArcCatalog yang menyatu dengan ArcMap, terdapat fungsi tab pada tabel attibute, kecepatan dalam me-render data raster yang bisa dilihat di link ini.
ESRI sendiri juga sudah menyediakan halaman khusus What’s Coming ArcGIS 10 untuk melihat lebih detail tentang peningkatan dan hal baru lainnya. ArcGIS 10 direncanakan rilis pada kuartal kedua tahun ini. Dengan rilisnya ArcGIS 10, nantinya ESRI juga akan mengupdate training class yang terdapat di training.esri.com
AnarQsm
Posted in Uncategorized on Juli 22, 2008 by yudipython911Anarki ( Yunani) adalah masyarakat penganut paham anarkhi, masyarakat yang tak berkewarganegaraan dari orang-orang yang merdeka. Anarkisme adalah nama suatu filosofi politik, atau suatu istilah umum untuk kurang lebig sebuah kelompok filosofi politik, diperoleh dari Yunani an-archos (” tanpa archons” atau ” tanpa para penguasa”). Seperti itu, ” anarkisme,” dalam arti semantik paling umum, adalah kepercayaan bahwa semua format hukum pemerintahan adalah tidak diinginkan dan harus dihapuskan.
Orang yang berpraktek anarki tidak percaya akan politik atau otoritas moral, tetapi boleh percaya akan kepemimpinan sukarela/fakultatif.
Perkembangan anarkisme sebagai pergerakan filosofis di akhir abad 18th, dengan dugaan kebebasan nya sebagai hal yang berdasar pada self-rule ekonomi dan politik. Adalah suatu reaksi kepada kenaikan nation-state dan kapitalisme industri besar-besaran
Iptek, Agama dan Ideologi
Posted in Uncategorized on Juli 22, 2008 by yudipython911INTELEKTUAL cenderung memecahkan masalah dengan pendekatan iptek yang rasional, politikusmemilih ideologi karena ada sistem yang jelas untukmencapai tujuan. Akankah agama ditinggalkan di abadiptek atau justru kembali ke agama, karena iptek cenderung merusak lingkungan dan ideologi gagalmewujudkan kesejahteraan bagi umat manusia.
Ketika ideologi sosialis yang otoriter menjadi totalitas ambruk dan ideologi yang kapitalis liberal gagal mewujudkan kesejahteraan, krisis pun muncul berkepanjangan. Dalam kondisi demikian ada kecenderungan untuk kembali ke agama sebagai pegangan dan pandangan hidup. Masalahnya, dapatkah agama dan iptek berdampingan dengan saling dukungannya dijadikan ideologi sebagai suatu system memecahkan masalah sosial?
Tentunya tidak segampang menerangkan tumbuh suburnya KKN karena ganasnya otoriter menelan demokrasi. Agama memang sulit dijadikan sistem social karena hanya ada pokok-pokok dasar arahan pemikiran yang harus dijabarkan dalam sistem yang lebih rinci, lengkap dan strategis. Kelemahannya, agama cenderung dogmatis, ortodoks dan feodal manakala peradaban masyarakat pendukungnya masih tertinggal. Dalam kondisi demikian, agama tidak jarang dimanipulasi untuk membohongi, membodohi dan menidurkan masyarakatnya yang dijadikan sasaran pemerasan terkemas.
Agama, termasuk berbagai bentuk kepercayaan sebagai sumber yang mengilhami suatu modifikasi ideologi, memang memungkinkan mutlak adanya. Jangankan untuk meragukan, mengembangkan interpretasi persepsinya pun bisa digugat. Memang seharusnya demikian karena agama sesuatu yang langgeng (a-gam) tidak bias dibubarkan. Berbeda dengan ideologi yangmemang seharusnya mampu menyesuaikan bahkan bias bubar jika gagal sebagaimana halnya komunis, sebagai Marxisme yang Leninisme. Ilmu pengetahuan tidak langgeng (seperti agama) dan tidak menyesuaikan (seperti ideologi) namun berubah dalam perkembangannya. Suatu teori akan gugur manakala ada temuan bangun teori baru yang mengunggulinya.
Agamawan Intelektual
Sebagaimana halnya dokter dukun (terkun), dokter yang tentunya rasional manakala merangkap sebagai dukun memerlukan pendekatan agama atau kepercayaan untuk menjawab misteri yang tak terjawab iptek. Semaju apa pun ilmu pengetahuan misteri tetap ada, karenanya agama masih tetap diperlukan untuk menjawab misteri, walau tak terpecahkan namun dapat memberikan kepuasan yang bisa menyembuhkan, memberi kesehatan dan kesejahteraan. Demikian halnya misteri bumi disangga kura-kura raksasa, lalu kura-kura raksasa itu apa yang menyangga jika di bawahnya dan di bawah selanjutnya juga kura-kura. Tentunya menjadi tak terhingga. Ketika fisikawan maestro memecahkannya, bukan lagi sebagai misteri. Juga Ratih (bukan rakyat terlatih) ditelan Kalarahu tidak lagi sebagai misteri ketika astrologi mampu menerangkannya dan astronot pertama Juri Gagarin dan Armstrong mendarat di bulan pada tahun 1963, yang sempat memberikan ceramah ilmiah di gedung bioskop Wisnu Denpasar. Agama dan iptek memang dua kutub berbeda, namun saling mendukung sehingga akan menjadikan dinamika kehidupan yang komprehensif, kreatif inovatif.
Politikus Agamawan
Ideologi pada prinsipnya ada dua, kiri dan kanan atau sosialis dan kapitalis. Pernah juga diistilahkan sosialis kiri sebagai komunis dan sosialis kanan sebagai kapitalis. Tentunya itu kurang tepat karena Marxisme baru akan menjadi komunis manakala diterapkan dengan Leninism yang memang ekstrem adanya. Sejauh Marxis sebagai teori ekonomi peranannya sebagai pranata sosial, tidak jauh berbeda dengan Adam Smith yang membangun teori kapitalis juga dari pendekatan moral.
Dalam kompetisinya berebut massa lewat ideology unggulan di masa lalu, PNI memang sempat mempromosikan ideologinya Marhaenisme adalah Marxisme di Indonesia. Ketika komunis dibubarkan, PNI terpojokkan, Marhaenisme pun ditenggelamkan. Nasakom memang dikhianati komunis yang telah amruk total, namun Nasionalisme dan Spiritualisme tidak harus diharamkan sehingga negara bangsa kehilangan arah ketika gelombang reformasi menghantam.
Titanic telah tenggelam tak terselamatkan, akankah ideologi Marhaenisme direhabilitasi, tergantung keberanian, kemauan dan kemampuan politikus yang berwawasan nasionalisme memberdayakannya kembali. Porsi posisinya sebagai ideologi berwawasan kebangsaan yang telah lengkap, mantap dan terinci senapas dan sejiwa dengan Pancasila karena penggali dan yang membidani kelahirannya adalah politikus nasionalis yang intelektual agamawan adanya.
Munculnya negara seratus partai tanpa memiliki ideology yang jelas memang memprihatinkan. Rawan kisruh, mudah rusuh dan gampang ditunggangi pihak luar yang mempermainkan nasib bangsa sebagai mainan murahan. Pancasila sebagai dasar Negara memang wajib sebagai pandangan hidup warga negaranya, pedoman politik bagi partai partai dan organisasi sosial kemasyarakatan. Masing-masing dengan ideology alternatifnya. Yang jelas, formal dan proporsional sebagai penjabaran Pancasila tanpa memanipulasi ke arah kepentingan tertentu yang merugikan perjuangan nasional.
Jelas, agama adalah pedoman dasar arahan moral yang menjiwai sikap dan perilaku politik. Ideologi adalah orientasi keyakinan misi, visi dan aksi politik menuju cita-cita perjuangannya. Iptek adalah jawaban atas masalah dan pemecahan problem. Dengan demikian, politikus yang berkepribadian agamawan moralis, berbobot ideologi kongkret dan berkualitas intelektual teknokrat adalah idola pemimpin masa depan. Pilihan dan dukungan massa terhadap suatu partai tentunya didasarkan pada bobot kepartaian dengan ideologinya, kepribadian dan kualitas intelektual kepemimpinannya. Untuk itu, ideologi, agama dan iptek perlu saling dukung demi kekompakan misi, kejelasan visi dan kepastian aksi yang konstruktif inspiratif. Tanpa ideologi dan ketaatasasan yang jelas, kebingungan dan keraguan terhadap dasar dukungan dan alasan pilihan massa kepada suatu partai yang menjamur, hanya seumur jagung akan ikut pemilu.
Politikus Intelektual
Ideologi adalah kekuatan politikus dan iptek adalah napasnya yang dijiwai keagamaan. Betapa mantapnya kualitas unggul politikus agamawan yang juga intelektual. Politikus intelektual yang moralis-ideologis memang manusia langka yang nyaris punah. Dengan tiadanya ideologi dan terjadinya pendangkalan penghayatan agama, kurang tepatnya iptek dengan kondisi yang ada, kualitas politikus, kepemimpinan dan massa pendukungnya, sulit diharapkan mampu mengantarkan menuju kesejahteraan yang dicita-citakan. Politikus memang seharusnya memahami, menghayati dan mampu menerapkan ideologi untuk mengelola, mengarahkan dan mengantarkan masyarakat massa pendukungnya menuju cita-citanya.
Pemimpin yang kepemimpinannya berkualitas dapat diharapkan mampu memajukan peradaban bangsa, meningkatkan kualitas kehidupan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kekuasaan dari hasil penjarahan, atas bantuan kekuatan asing, risikonya akan melahirkan krisis, kisruh dan rusuh. Uniknya kekuatan yang memprogramnya tidak akan segan-segan mengorbankannya jika sudah tidak lagi produktif. Sebagaimana ayam petelor yang pada saatnya jika tidak lagi produktif tidak ada pilihan lain kecuali dikorbankan untuk kelangsungan pengurasan atas lahan yang disandranya. Untuk menghindari nasib bangsa kembali terjajah ratusan tahun, memang seharusnya generasi muda penerus bangsa memperjuangkan kemerdekaan dalam arti sebenarnya. Tiap perubahan memang menimbulkan guncangan, pertahanan dan perlawanan. Tidak pernah ada kekuasaan hasil rampasan diserahkan dengan ikhlas. Kekuasaan dari hasil penjarahan akan beralih lewat kekerasan. Tak terhindarkan menelan korban jiwa harta dan idealisme. Menghindari punahnya bangsa yang pernah jaya, memang seharusnya ada kesadaran regenerasi tanpa harus melibatkan kekuatan luar dalam pendayaan, pendanaan dan pengambilalihannya.
Untuk itu, jelas diperlukan kesiapan untuk berubah, kesediaan untuk diubah dan kemampuan untuk mengubah. Penyiapan politikus intelektual adalah jawaban atas peluang dan tantangan yang tidak harus dilewatkan dengan kecemasan dan penyesalan. Kenyataan telah dialami dengan politikus actor terprogram, negara dijual, bangsa dikorbankan karena diposisikan sebagai lahan ekploitasi dan pemasaran kemanjaan produk impor. Negara ambruk, bangsa tenggelam terhimpit utang yang tak akan terbayar sepanjang generasi di mana aset bangsa telah dirampas tak terkembalikan.
Penyiapan politikus intelektual yang moralis memang mendesak, harus dan tak tertunda karena penundaan akan memperparah kehidupan bangsa. Mengorbankan mahasiswa mahasiswa pahlawan reformasi makin banyak berarti berkurangnya intelektual berwawasan kebangsaan. Masalah baru pun muncul, bagaimana menyiapkan politikus intelektual yang moralis?
Memaknai Agama ke Arah Iptek
Membadutkan nilai-nilai normatif ajaran agama memang harus dicegah, ditangkal dan diambil tindakan hokum terhadap para peleceh dan pelanggarnya. Namun pemaknaan terhadap nilai-nilai normatif ajaran agama memang seharusnya dilakukan agar agama tetap eksis, tidak ditinggalkan karena alasan ortodoks, feudal tertinggal dan serba menghambat. Kondisi demikian akan terjadi jika agama tidak mampu mengakomodasikan tuntutan kejiwaan umatnya dan permasalahannya terselesaikan melalui iptek denagn menemukan kepuasan dalam keseimbangan kehidupannya. Makin majunya iptek memang tidak seharusnya menyebabkan agama makin ditinggalkan. Agama yang mampu memaknai nilai-nilai normative kejiwaan untuk terakomodasi dalam sistem sosial yang sedang berlaku dan tuntutan prediksi masa depan akan menjadi agama unggulan yang tangguh. Bukan saja karena kemampuan kejiwaannya, juga kemampuan kongkret kesejahteraannya, yang bukan tak mungkin bagi agama masa depan yang holistik komprehensif.
Jelasnya, universitas keagamaan adalah tuntutan agama masa depan dalam menjiwai kepemimpinan politikus intelektual moralis yang mampu mengakrabkan kedua kutub sistem sosial yang berlaku. Menghapus otoriter sosialis dan mendemokrasikan kapitalis, dengan meningkatkan kualitas iptek dalam kemantapan intelektual moralis.
Satanisme
Posted in Uncategorized on Februari 27, 2008 by yudipython911Penyembahan terhadap setan ini, untuk pertama kali diperkenalkan secara sistematis dan terorganisasi oleh Aleister Crowley (1875-1947). Pengalaman dirinya mempelajari aliran kebatinan, khususnya tradisi mistik kuno Yahudi yang disebut Kabalah telah mengantarkannya menjadi anggota Order of the Golden Dawn, sebuah organisasi yang mempelajari dan mengembangkan ajaran mistik dan ikut mengembangkan organisasi freemason sebagai organisasi “lelaki jantan” yang memilih dan mengembangkannya sebagai organisasi yang sangat ketat untuk membangun lelaki yang kuat, cerdas, dan mempunyai daya pikat.
Ajaran dan pemikiran tentang setanisme ini dituangkan dalam tulisannya yang diberi judul Liber Legis yang intinya mengajarkan kebebasan manusia sebagai inti kehidupan. Dia menekankan bahwa hidup yang sebenarnya harus terbebaskan dari segala ikatan peraturan, sebagaimana ditulisnya:
“Tidak ada hukum, kerjakanlah apa yang kau inginkan. Jadilah kuat, sang laki-laki! Nikmati dan reguklah dengan sepuasnya segala kegairahan nafsu, jangan takut dengan Tuhan karena perbuatanmu itu.”
(There is no law, do what you will, be strong man! Desire and enjoy all things of the senses and ecstacy; do not fear that God will reject you for this…)
Andrea Porcarelli menulis, “Ajaran setan merupakan bentuk pemujaan diri yang dihubungkan dengan caranya yang radikal untuk melawan segala macam bentuk ketuhanan, khususnya gambaran Tuhan sebagaimana tertulis dalam Bibel.”
(“Satanism is the abosulute exaltation of the self, connected with a radical rebellion against the divine in general and of the God of the Bible in particular. . .. “)
Secara garis besar ajaran setanisme ini dapat dikelompokkan dalam tiga bagian besar, yaitu sebagai berikut
1. Religious Satanism.
2. Gothic Satanism.
3. Satanic Dabblers
Ajaran Crowley dikembangkan lebih modern dan terorganisasi rapi oleh Anto Sandorz La Vey yang mendirikan Church of Satan (Gereja Setan) pada tanggal 30 April 1966 yang dikenal dengan “hari setan” (Walpurgisnacht). Untuk menanamkan keyakinan kepada para pengikutnya, La Vey mengarang beberapa buku di antaranya: The Satanic Bible (1969), The Satanic Ritual (1969), dan The Complete Witch (1972).
Organisasinya dikembangkan dengan sistem manajemen modern. Setiap daerah ditentukan hierarki gereja yang disebut grottos, pylons atau kuil. Ajaran setanisme ini menjungkirbalikkan seluruh tatanan keyakinan agama yang ada khususnya Kristen. Beberapa ajarannya adalah sebagai berikut.
a. “Tuhan diciptakan sendiri oleh manusia dengan berbagai bentuk sesuai imajinasi
c. “Setan bukanlah suatu wujud, melainkan sebuah kekuatan alam kosmik.”
d. “Setan mempunyai berbagai nama antara lain Lucifer, Belial, dan Leviathan,
e. “Manusia adalah sentral perhatian, karena manusia merupakan bintang dalam struktur
Ajaran setanisme yang ditawarkan oleh La Vey hanyalah bagian kecil saja dari sebuah konspirasi ideologi global yang menunjukkan kesombongan atau arogansi yang menantang dan sekaligus menafikan sistem iman umat beragama, sebagaimana dijelaskan dengan gamblang di dalam Al-Qur’an tentang sifat orang-orang kafir sebagai berikut:
“Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.” (Shad: 2)
Ajaran setanisme merupakan bentuk ideologi baru yang secara nyata menantang kaum beragama untuk memperkuat diri dari terpaan atau serangan mereka yang menyerbu dengan dahsyat dan mengguncang hati umat manusia.
Hello world!
Posted in Uncategorized on Februari 26, 2008 by yudipython911Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
